Apa yang ada
dipikiran agan ketika dengar kata Thailand? Bisa Gajah Putihnya, bisa
Pagodanya, bisa juga Bancinya. 3 hal itu emang ga bisa lepas dari negeri yang
sekarang dipimpin oleh Raja Vajiralongkorn, bahkan sang Raja ini pun sempat
dianggap rakyatnya memiliki kecenderungan sebagai LGBT karena fotonya
menggunakan tanktop di Bandara beredar beberapa tahun lalu. Entah karena cuaca
di Munich sedang panas atau apa saat itu, yang jelas foto anak Almarhum Raja
Bhumibol tersebut menuai banyak protes untuk suksesinya sebelum dia naik tahta.
Balik lagi ke topik
awal, Thailand memang negara yang paling memberikan toleransi tinggi untuk kaum
LGBT dia Asia Tenggara. Pasangan LGBT? Bebas.. LGBT peluk cium dijalan? Joss
lanjut terus.. Mau nikah? Silahkan. Melihat fenomena itu, wabah LGBT disana
sudah seakan jadi titik balik kehidupan masyarakatnya. Hanya ada satu hal yang
masih belum ditetapkan untuk kaum LGBT di sana, yaitu hukum. Pernikahan sesama
jenis di Thailand masih ga kuat secara hukum. Pengurusan cerai, adopsi anak,
bahkan akte anak untuk kaum LGBT masih sulit didapat, bahkan mungkin ga ada.
Semasa hidup, Raja Bhumibol memang udah memberi batas untuk pasangan-pasangan
ini, dimana meskipun mereka ‘dihalalkan’ menikah mereka juga harus sadar status
mereka di mata hukum sangat rendah. Mungkin Alm. Raja Bhumibol takut nanti
negaranya isi LGBT semua hehe.
Menilik beberapa
tahun belakangan ini, Thailand menjadi surganya untuk kaum Gay dari negara
Asia. Semua party, festival, klub, bar, segala hal yang bertema Gay lengkap
sepaket ada di sana. Setiap bulan, Asosiasi Gay Bangkok rutin ngadain acara
perkumpulan di tengah-tengan taman Lumpini, lengkap dengan simbol Anti AIDS dan
bendera pelanginya. Mimin jelasin sedikit, Gay merupakan bagian dari LGBT
(Lesbian Gay Biseksual Transgender). Gay dengan Waria itu berbeda. Gay adalah laki-laki
yang benar-benar sadar bahwa dia laki-laki, namun memiliki kelainan yaitu
menyukai sesama jenis. Sedangkan waria adalah laki-laki yang berusaha mengubah
penampilannya agar semirip mungkin dengan perempuan karena mereka merasa
terjebak di dalam tubuh yang salah.
Sekali lagi mimin
ingatkan, Gay itu bukan penyakit. Sudah sejak lama Asosiasi Psikiater Dunia menghapus
fenomena LGBT dari daftar penyakit kejiwaan, karena menjadi gay bukan penyakit.
Gay bukan hama yang harus dibasmi, gay itu pilihan, genetik, bawaan lahir. Banyak
yang menjudge pilihan seseorang menjadi gay atau LGBT, mendo’akan mereka supaya
cepat masuk neraka dan sebagainya. Helloo? Memangnya mereka mau jadi begitu? Seperti
kata Dena Rachman, kalian pikir surga cuma untuk laki-laki dan perempuan aja?
Apapun yang berurusan dengan agama, itu urusan mereka dengan Tuhan. Yang setuju
boleh angkat kaki.. eh tangan hehe.
Di artikel mimin
kali ini, kita bakalan coba mengulas apa yang menjadi penyebab seeorang
laki-laki bisa menyukai sesama jenisnya. Dibawah ini sudah ada beberapa faktor
utama yang menjadi penyebab mengapa seseorang cenderung menjadi Gay. Penyebab
utama ini berlaku hampir diseluruh dunia.
1. Genetik.
Bentukan Sejak Lahir.
Hampir 90% Dokter
kejiwaan atau Psikolog di dunia bilang bahwa penyebab utama kecenderungan
menjadi LGBT adalah faktor genetik yang ada semenjak
janin masih di
dalam kandungan. Identitas diri manusia didasarkan pada susunan saraf pada otak.
Otak adalah organ pertama yang terbentuk saat manusia masih menjadi janin. Saat
otak mulai berkembang di dalam janin, banyak faktor yang mempengaruhi termasuk hormon
bawaan orangtua, hormon bayinya sendiri, faktor genetik, dll. Jika orangtua
punya kecenderuang genetik sebagai Gay, maka besar kemungkinan anak yang
dikandung sang Ibu nantinya juga punya kelainan orientasi sebagai homoseks.
Masih ingat ga sama film Gay Thailand yang judulnya Father & Son?
Difilm itu anaknya benci sama ayahnya yang Gay, dan dia lebih benci pada dirinya
sendiri karena udah membawa genetik Gay dari ayahnya. Difilm itu sudah
dibuktikan bahwa orientasi seks seseorang merupakan bentukan sejak lahir.
2. Pilihan. Gay is
a Choice? Jawabannya adalah Iya.
Terlahir menjadi
Gay sebenarnya bukan pilihan karena homoseks merupakan genetik bawaan sejak
lahir. Tapi, mau bagaimana kita menyikapi genetik itu nantinya yang merupakan
sebuah pilihan. Jika kita terlahir dengan genetik Gay, namun kita berusaha
untuk melawan genetik itu dengan tetap menyukai perempuan dan berjalan lurus,
artinya kita MEMILIH untuk tidak menjadi Gay (meskipun mimin yakin orang
yang memilih jalan ini tidak bahagia). Namun jika genetik Gay itu dikembangkan,
artinya kita MEMILIH untuk menjadi Gay. Sama seperti hidup yang penuh
pilihan, menjadi Gay juga merupakan suatu pilihan yang sulit. Itu keputusan
pribadi di saat seseorang dengan sadarnya mengembangkan genetik Gay yang dia
punya. Buat kalian yang sudah memilih jalan ini, Keep Spirit dan jangan merasa
sendirian di dunia ini ya guys ^^
3. Karena Sakit
Hati? Anak Broken Home? Lingkungan? Budaya? Ketularan?
Hal-hal diatas
jelas mempengaruhi, tapi tidak semuanya benar. Tidak ada penelitian yang
membenarkan bahwa penyebab homoseks adalah sakit hati ataupun korban broken
home. Sementara untuk faktor lingkungan sosial dan budaya, hampir 35%
mempengaruhi perkembangan genetik Gay dalam diri seseorang. Jadi sebenarnya
lingkungan, budaya, dan pergaulan bukan faktor utama penyebab Gay, melainkan
hanya faktor pendukung yang memunculkan sosok manusia itu yang sebenarnya. Jadi
jika laki-laki terlahir dengan genetik sebagai homoseks, saat dia bergaul dan
hidup di lingkungan Gay, maka sosok dirinya yang asli akan muncul.
Ketularan? Haha, ga
ada itu. Kalau ada cowok yang bilang dia jadi Gay karena ketularan, itu cuma
bentuk penyangkalan dirinya aja. Ngga mengakui kalau selama ini dia punya
kecenderungan untuk menjadi Gay. Selama hampir setahun mimin berteman dan
bergaul dengan kaum Gay, kasus ketularan ini jarang banget terjadi. Karena jika
tidak ada genetik Gay, seseorang tidak akan terpengaruh meskipun dia bergaul
dengan kaum homoseks.
4. Teori Belajar.
Normal Tapi Sering Nonton Film Gay? Sebaiknya Jangan ya..
Jika 90% Gay
merupakan genetik bawaan lahir, maka 10% penyebab Gay adalah Teori Belajar. Di
teori belajar ini, anak laki-laki normal tanpa genetik Gay juga memiliki
peluang untuk tumbuh menjadi Gay. Jika dalam proses belajarnya sang anak meniru
seorang Laki-Laki, namun sang Laki-Laki tersebut tidak bisa memberi contoh
bagaimana seharusnya laki-laki berpikir, bersikap dan berprilaku, maka kelak
saat dewasa penilaian sang anak pada laki-laki menjadi berbeda.
Proses belajar lain
juga sangat mempengaruhi seperti hidup di lingkungan yang isinya Gay, menonton
film Gay, berteman dengan Gay, punya Ayah Gay, menonton video porno Gay, punya
saudara laki-laki, dll. Namun itu semua balik lagi ke penyebab nomor 1, dimana jika
tidak ada genetik Gay, seseorang tidak akan terpengaruh meskipun dia menonton
film Gay ataupun bergaul dengan kaum homoseks. Jadi buat cowok normal nih
jangan sering-sering nonton SOTUS The Series ya, siapa tau ada genetik
Gay dan ribetnya nanti malah kebentuk.. hehehe. Bercanda kok ^^
5. Sex Abuse.
Kekerasan Seks Yang Dilakukan Oleh Gay.
Pelecehan seksual
pada anak laki-laki dengan cara sodomi (anal seks) bisa menyebabkan trauma
untuk si anak tersebut. Trauma ini menimbulkan banyak sensasi seperti rasa
marah, kecewa, dan juga kenikmatan. Jika kenikmantan tersebut yang lebih condong
dirasakan oleh sang anak, maka besar kemungkinan sang anak akan berubah
orientasi seksualnya. Contohnya aktor Indonesia yang mengaku Gay akibat Sex Abuse
adalah Jupiter Fourtissimo, yang disodomi oleh pembantunya sendiri saat masih
kecil. Meskipun sudah ada banyak bukti dari penyimpangan seksual akibat Sex
Abuse ini, Dokter dan Psikiater masih meragukan besarnya peranan Sex Abuse
dalam perubahan orientasi seks laki-laki.
Kelima faktor
diatas cukup untuk menjelaskan apa sebenarnya penyebab laki-laki menjadi
Homoseks. Dari situ kita bisa tau bahwa terlahir dengan genetik Gay adalah hal
tersulit didunia ini, jadi jangan sembarangan mendiskriminasi atau mengucilkan
kaum Gay. Semua cowok pengen hidup normal, pengen punya kisah cinta yang
normal. Kalau para Gay bisa memilih, waktu masih jadi janin dia bakalan pindah
ke rahim Ibu tetangga supaya terlahir tanpa genteik Gay itu. Selain dapat dari
searching di gugel, penyebab itu juga mimin dapat dari pengalaman mimin bergaul
sama kaum mereka. Selanjutnya kita bakalan membahas fenomena Gay di negara
Thailand aja. Ternyata untuk negara Thailand, penyebab laki-laki menjadi Gay
bukan hanya ada lima. Penasaran kan..
1. Tayangan Berbau
Gay, Pemandangan Berbau Gay
Kalau dilihat
secara umum, penyebab utama homoseks adalah genetik, namun di Thailand hal itu
sedikit ngga berlaku. Di situs Pantip.com, ada seorang mahasiswa Thailand yang
menuliskan awal mula kisahnya bisa menjadi seoarang Gay. Beberapa tahun yang
lalu, sebut aja namanya Ko deh. Ko ini orientasinya seksnya normal dan
cenderung playboy. Dia punya pacar cantik, punya kehidupan cinta yang normal.
Dirumah, Ko selalu mual setiap kali melihat series ataupun Lakorn di TV yang
bertema Gay, bahkan ngeliat iklan Gay aja dia jijik. Diluar rumah juga begitu,
hampir sepanjang jalan disetiap sudut Bangkok selalu ada pasangan Gay. Dia
merasa geli sampai-sampai membatasi pergaulannya dan menjauhi para LGBT.
Saking jijiknya, Ko
ngga sadar sebenarnya dia mulai memperhatikan dan belajar dari hal-hal yang dia
lihat. Sejak umur 10 tahun, Ko mengaku hampir setiap minggu melihat tayangan
berbau Gay di TV. Di jalan raya, semua adegan mesra pasangan Gay melekat
dipikiran dia, yang mengubah rasa jijik itu menjadi rasa penasaran. Sekarang Ko
ini mengaku sudah bisa menerima jati diri dia yang sebenarnya (gay) dan punya
pacar cowok.
Tayangan berbau Gay
di Thailand sana memang meraja lela tanpa sensor, tayangnya di TV nasional
pula. Bayangin gimana kalau yang nonton itu anak cowok umur 7 tahun? Untuk film
Gay yang ditayangin di bioskop lebih ngeri lagi, rata-rata rate 20+ semua lho.
Mimin waktu nonton film Father & Son aja mual ngeliat adegan seks anal para
pemainnya. Yang paling mengebohkan baru-baru ini muncul variety show Take
Guy Out yang menjadi ajang cari jodoh untuk para Gay-Gay galau. Yang bikin
nyesek, Gay di Thailand sana pada cakeeepppp cakeepppp semuaaaaaa!
2. Banyaknya
Sekolah Khusus Laki-Laki. Bro, Nonton Bokep Bareng Yuk..
Setelah tayangan
barbau Gay tanpa batas di rumah, kita beralih ke sekolah. Faktor ini sebenarnya
faktor yang paling sering jadi Issu penyebab banyaknya Gay di Thailand. Disana,
sekolah Khusus laki-laki jumlahnya 20 kali lipat lebih banyak dari jumlah
sekolah umum campuran ataupun sekolah khusus perempuan. Apalagi dengan
ditambahnya sistem asrama, yang memungkinkan remaja cowok dalam masa labil
lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi, bergaul, dan mencoba
berbagai macam hal dengan sesama cowok. Dari survei 10 orang Gay Thailand,
semuanya mengaku berasal dari sekolah khusus laki-laki dan hampir 80% pernah
menonton video porno bersama teman sekamarnya (laki-laki). Kalau kita lihat di
series boyslove rate remaja, semuanya berlatar di sekolah Khusus Laki-Laki. Itu
bukan tanpa alasan, karna emang dari situlah bibit Gay di kalangan remaja
berasal.
3. Kebiasaan
Keluarga Yang Menerima Kelainan Seksual
Jika tiba-tiba
suatu hari sang anak datang dan bilang kalau dia seorang Gay, hampir 70% dari
orang tua di Thailand menerima kondisi itu asalkan anaknya bahagia. Mungkin
untuk beberapa waktu akan ada beda pendapat dan saling cekcok, tapi pada
akhirnya mereka tetap akan menerima kelainan seksual anaknya itu. Hal tersebut
yang memicu keinginan laki-laki lain untuk meniru dan mengasah genetik Gay yang
ada didalam dirinya, dengan pikiran “Toh nanti orangtuaku pasti akan
menerima aku apa adanya. Temanku yang Gay itu masih disayang sama keluarganya
kok. Orangtuaku juga pasti begitu”. Kalau di Indonesia jangankan keluarga,
masyarakat yang ga kenalpun berbondong-bondong untuk memberantas yang namanya
kaum Gay, seakan-akan mereka itu hama yang harus disemprot pestisida.
4. Cewek Oplosan.
Miss V Oplosan. Payudara Oplosan
Apa maksudnya tuh?
Minuman oplosan ya? Bukan bukan.. Yang oplosan itu cewek Thailandnya. Mengingat
populasi Transgender juga sangat buaaanyaaak di sana, hati-hati ternyata cewek
cantik dengan pinggul indah dan payudara besar itu ternyata cewek jadi-jadian
alias Transgender. Survei di situs Pantip merilis alasan kenapa cowok cakep di
sana berbondong-bondong untuk jadi Gay, dan salah satu alasannya adalah hampir
dari mereka semua pernah ketipu dan pernah pacaran sama si cantik Transgender.
Karena sekarang semakin sulit membedakan mana cewek asli atau cewek oplosan,
laki-laki ganteng itu biasanya lebih memilih unutk mencoba pacaran dengan
laki-laki. Dari awalnya yang coba-coba.. ehhh keterusan deh. Candu kayak Rokok.
5. Capek di
Diskriminasi. Sayang.. Kita Pindah Ke Thailand Aja Yuk
Selama berteman
dengan kaum Gay, hampir sebagian dari mereka pengen banget pindah ke Thailand
hanya untuk dapat pengakuan di mata publik. Keinginan mereka itu tentu aja
dengan alasan negara Thailand sangat welcome dengan kaum Gay. Ini juga salah
satu kenapa populasi Gay disana semakin banyak. Pasangan Gay dari negara Asia
Tenggara lain atau dari Eropa biasanya memilih pindah dan melangsungkan
pernikahan di Thailand, agar keberadaan mereka diakui tanpa adanya dikriminasi.
Tahun 2015 kemaren sudah ada 3 pasangan Gay yang melangsungkan pernikahan Treesome. Jika biasanya hubungan cinta dijalin oleh 2 orang, hubungan antara Art, Ball, dan Joke ini dijalin bertiga. Lucunya, meskipun cinta mereka layaknya cinta segitiga, pasangan ini tetap bisa hidup rukun dan saling menyayangi. Ini bukti bahwa pernikahan kaum LGBT seaneh apapun, negara Thailand tetap welcome meskipun masih ada sebagian masyarakat Thailand yang 'waras' dan mengkritik mereka.
Ingat pasangan Gay
yang nikah di Bali? Mimin kecewa dengan kelakuan netizen Indonesia yang
menyuguhi mereka dengan sumpah serapah, bahkan menyebut mereka utusan setan dan
pengen bikin petisi agar mereka di deportase ke negara lain. Itu hal paling
mengerikan yang pernah mimin dengar untuk kaum Gay. Dia orang Indonesia, lahir
di Indonesia, keberanian mereka buat menikah di Indonesia aja udah cukup
diacungi jempol, terlepas dari perbuatan mereka benar atau salah. Kebanyakan
pasangan yang diperlakukan begitu memilih untuk benaran kabur ke luar negeri.
6. Selebholic. Pura-Pura
Jadi Gay, Yuk.. Biar Banyak Fans
Sesuai judulnya,
selebholic. Cowok normal di Thailand saat ini sangaaaaatttt banyaaakkk yang
berpura-pura jadi Gay agar dapat banyak follower Instagram, atau biar dapat
endorese produk celana dalam Calvin Klein. Aneh tapi nyata memang. Semua udah
tau kalau kaum Gay di Thailand makin bertambah hampir 400% dibandingkan
populasi tahun 2010. Pasangan Gay Thailand yang ganteng-ganteng dan unyu sangat
cepat menjadi viral di Sosial Media. Karena hal tersebut, banyak cowok ganteng
yang akhirnya berpura-pura menjadi pasangan Gay demi sebuah ketenaran.
Mimin jadi ingat
series Room Alone 401-410. Dua cowok ganteng itu pura-pura pacaran, jadi viral,
punya banyak fans, dan banyak dapet endorese krim kecantikan deh. Wihh,
beruntung banget ya dapat rejeki hasil nipu publik hehe. Fenomena selebholic
ini bukan cuma untuk kaum Gay, tapi juga kaum Lesbian. Cewek-cewek cantik
berpura-pura pacaran dan bersikap layaknya lesbian untuk mendapatkan
popularitas, padahal sebenarnya mereka normal.






